Kamis, 14 Agustus 2008

Merubah Peradaban


Sejarah membuktikan bahwa perubahan peradaban tidak selalu disponsori oleh orang yang berpendidikan tinggi, juga begitu banyak tokoh-tokoh sejarah yang namanya ditulis dengan tinta emas bukan dari kalangan akademisi tapi justru dari orang kecil, yang awalnya dari tidak siapa-siapa menjadi siapa saja kenal dia. dalam kontek kekinian apakah konsep ini tetap berlaku. Pengetahuan teknologi berkembang dengan cepat, batas dunia semakin tidak jelas. Maka untuk merubah peradaban ini diperlukan seorang ilmuawan untuk menjadi pemimpin?, Indonesia tidak kekurangan ilmuawan, ribuan ilmuawan ada di Indonesia, ya kenapa kita belum juga keluar dari krisis? jangankan untuk merubah peradaban untuk keluar dari krisis saja sudah susah keluarnya. Umar bin khatab, Umar Abdul Aziz, dan Abu Bakar as Siddik adalah tipe yang merubah peradaban dengan keteguhan jiwa, dan kekuatan prinsip akidah yang dimilikinya, sehinga aura kekuatan itu menjadi inspirator bagi bawahannya untuk berbuat lebih baik dan sami'na wa atoqna.

SPPD fiktif, antara nurani dan takut pada atasan


SPPD fiktif sudah menjadi biasa di kalangan instansi pemerintah, tentu saja dengan alasan yang macam-macam, apalagi kalau nama kita dipakai tanpa sepengatahuan kita, ujug-ujug ketika inspektorad datang kita pula yang disuruhnya membuat laporan, apa nak dibuat, data tak ada, survey tak ada, tapi disuruh membuat, ya ngaranglah. cuma nurani terjadi benturan, tapi karena jiwa lemah dan tak berani menolak akhirnya ini akan menjadi lestari dari generasi ke genarasi. jiwa kita akan lebih tenang melihat anak kecil Balita yang polos tanpa dosa, dari pada kita berurusan dengan atasan yang penuh kelicikan dan kepentingan pribadi, apa hubungannya saya juga ndak tahu.